Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Agustus 2012
Dakwah Si Anak Kecil
Sebuah Kisah Nyata yang menggugah bagi pejuang dakwah islam.. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran..
“menjadi kebiasaan di hari jum’at, seorang imam masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan dan keramaian,
sebuah brosur da’wah yang berjudul “thariiqun ilal jannah” (jalan menuju Jannah).
Namun kali ini, cuaca sangat dingin, ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah.
Si anak telah siap memakai pekaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara,
lalu ia berkata kepada sang ayah,
Selasa, 31 Juli 2012
TRAGEDI SARAH
Ini adalah sebuah kisah nyata yang dituturkan oleh seorang muslim di daerah timur tengah.
Banyak orang yang menikmati masa lalu dengan semua kenangan
yang ada di dalamnya. Mereka senang membicarakannya, kecuali aku. Apakah kalian
tahu mengapa? Aku tidak ingin menceritakannya pada kalian, karena aku khawatir
kalian justru melaknat dan mendoakan kehancuharan untukku jauh lebih banyak
dari laknat yang kulemparkan untuk diriku sendiri. Jangan sampai di antara
kalian ada orang shalih yang doanya dikabulkan oleh Allah, sehingga ia kemudian
benar-benar menghukum dan melaknatku akibat itu….
Tolong maafkan aku atas kalimat-kalimat membingungkan dan tidak beraturan ini, karena aku adalah orang yang mendapatkan musibah. Andai saja ini hanya satu musibah ….oh, ini bahkan dua, tiga, bahkan lebih dari itu…..
Aku adalah orang yang telah menjual segala sesuatunya, namun tidak mendapatkan apapun. Dan demi Allah, aku tidak menuturkan kisahku pada kalian selain untuk mengingatkan kalian, mengingatkan orang yang begitu berharga bagi kalian agar tidak terjatuh dalam apa yang aku alami.
Aku tidak tahu, apakah aku harus menyelesaikan kisah ini atau berhenti di sini. Demi Allah, pena pun menjadi malu terhadap apa yang akan kutulis. Jariku menolak seribu kali dan ingin menahanku, namun aku akan tetap menulis kisahku. Semoga Allah berkenan menuliskan satu atau dua kebaikan untukku saat kelak aku menghadap-NYA pada hari kiamat, meski kadang aku berpikir bahwa ia akan menerima taubat sang setan, namun tidak menerima taubatku. Kalian jangan menghinaku, dengarkanlah kisahku dan ambilah pelajaran serta ibrah sebelum semuanya terlambat……
Aku adalah seorang pemuda yang hidup dalam kelapangan. Dari keluarga yang menjaga kehormatan dan mendapatkan rezki yang baik lagi berkah dari Allah. Sejak kami tumbuh, kami hidup bersama dalam naungan kebahagian dan cinta di dalam rumah kami. Di dalam rumah kami ada ibu, ayahku, nenekku dan saudara-saudaraku. Kami berjumlah semua tujuh orang, aku adalah anak kedua dan di atas ku adalah seorang kakak perempuan bernama Sarah. Usianya berselisih satu tahun denganku.
Setelah ayahku, akulah yang menjadi tumpuan di rumah. Aku menjalani proses studiku hingga sampai ke kelas 2 SMA, dan saudariku Sarah duduk di kelas 3 SMA. Sementara saudara-saudaraku yang lain mengikuti pula apa yang kami tempuh.
Aku sendiri bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur. Namun ibuku menolaknya dan mengatakan bahwa ia ingin aku menjadi seorang pilot. Sementara ayah mendukungku untuk menjadi seorang akademisi dalam bidang apa saja. Saudariku sarah ingin menjadi seorang guru untuk mengajarkan agama dan adab kepada generasi masa depan. Namun tinggalah itu semua menjadi angan dan cita-cita.
Tolong maafkan aku atas kalimat-kalimat membingungkan dan tidak beraturan ini, karena aku adalah orang yang mendapatkan musibah. Andai saja ini hanya satu musibah ….oh, ini bahkan dua, tiga, bahkan lebih dari itu…..
Aku adalah orang yang telah menjual segala sesuatunya, namun tidak mendapatkan apapun. Dan demi Allah, aku tidak menuturkan kisahku pada kalian selain untuk mengingatkan kalian, mengingatkan orang yang begitu berharga bagi kalian agar tidak terjatuh dalam apa yang aku alami.
Aku tidak tahu, apakah aku harus menyelesaikan kisah ini atau berhenti di sini. Demi Allah, pena pun menjadi malu terhadap apa yang akan kutulis. Jariku menolak seribu kali dan ingin menahanku, namun aku akan tetap menulis kisahku. Semoga Allah berkenan menuliskan satu atau dua kebaikan untukku saat kelak aku menghadap-NYA pada hari kiamat, meski kadang aku berpikir bahwa ia akan menerima taubat sang setan, namun tidak menerima taubatku. Kalian jangan menghinaku, dengarkanlah kisahku dan ambilah pelajaran serta ibrah sebelum semuanya terlambat……
Aku adalah seorang pemuda yang hidup dalam kelapangan. Dari keluarga yang menjaga kehormatan dan mendapatkan rezki yang baik lagi berkah dari Allah. Sejak kami tumbuh, kami hidup bersama dalam naungan kebahagian dan cinta di dalam rumah kami. Di dalam rumah kami ada ibu, ayahku, nenekku dan saudara-saudaraku. Kami berjumlah semua tujuh orang, aku adalah anak kedua dan di atas ku adalah seorang kakak perempuan bernama Sarah. Usianya berselisih satu tahun denganku.
Setelah ayahku, akulah yang menjadi tumpuan di rumah. Aku menjalani proses studiku hingga sampai ke kelas 2 SMA, dan saudariku Sarah duduk di kelas 3 SMA. Sementara saudara-saudaraku yang lain mengikuti pula apa yang kami tempuh.
Aku sendiri bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur. Namun ibuku menolaknya dan mengatakan bahwa ia ingin aku menjadi seorang pilot. Sementara ayah mendukungku untuk menjadi seorang akademisi dalam bidang apa saja. Saudariku sarah ingin menjadi seorang guru untuk mengajarkan agama dan adab kepada generasi masa depan. Namun tinggalah itu semua menjadi angan dan cita-cita.
Minggu, 22 Juli 2012
AYAH ! SHALAT SUBUH
|
S
|
uatu hari
seorang anak sedang belajar di sekolahnya, dia baru kelas 3 SD. Di salah
satu pelajaran, seorang guru menjelaskan tentang shalat subuh dan dia
menyimaknya dengan seksama. Mulailah gurunya berbicara tentang keutamaan
dan pentingnya shalat subuh dengan cara yang menggugah, tersentuhlah
anak didiknya yang masih kecil itu. Terpengaruhlah seorang anak kecil
tadi oleh perkataan gurunya sementara ini dia belum pernah shalat subuh
sebelumnya dan juga keluarganya.
Minggu, 01 Juli 2012
Kisah Nikah Mut'ah
Kisah Nikah Mut’ah (sebuah ironi)
Nikah mut’ah adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut’ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, a...ntara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita dengan bibinya, sementara dia tidak menyadarinya. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan Sayyid Husain Al Musawi. Ia menceritakan,
Kisah pertama:
Seorang perempuan datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan saya. Setelah berlalu beberapa waktu saya dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.
Nikah mut’ah adalah pernikahan tanpa batas dengan menerabas aturan-aturan syariat yang suci, mut’ah ini telah melahirkan banyak kisah pilu. Tidak jarang pernikahan ini menghimpun antara anak dan ibunya, a...ntara seorang wanita dengan saudaranya, dan antara seorang wanita dengan bibinya, sementara dia tidak menyadarinya. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan Sayyid Husain Al Musawi. Ia menceritakan,
Kisah pertama:
Seorang perempuan datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan saya. Setelah berlalu beberapa waktu saya dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.
Selasa, 01 Mei 2012
Kisah Nyata: Ipar adalah Maut
Khalid duduk di ruang kerjanya dengan
pikiran yang diliputi kesedihan dan kegalauan. Shaleh, kawannya,
memperhatikan kegalauan dan kesedihan itu di wajahnya. Ia berdiri dari
mejanya dan mendekati Khalid, lalu berkata padanya:
“Khalid, kita ini berteman layaknya
bersaudara sejak sebelum kita sama-sama bekerja. Aku perhatikan sejak
seminggu ini selalu termenung, tidak konsentrasi. Engkau kelihatan
begitu galau dan bersedih…”
Khalid terdiam sejenak. Kemudian ia berkata:
“Terima kasih atas kepedulianmu,
Shaleh…Aku merasa memang membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan
masalah dan kegelisahanku, barangkali itu bisa membantuku untuk mencari
jalan keluarnya…”
Minggu, 15 April 2012
Kisah Taubatnya 3 wanita syi'ah
Semenjak lahir, yang kutahu dari akidahku hanyalah ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait. Kami dahulu memohon pertolongan kepada mereka, bersumpah atas nama mereka dan kembali kepada mereka tiap menghadapi bencana. Aku dan kedua saudariku telah benar-benar meresapi akidah ini sejak kanak-kanak.
Kami memang berasal dari keluarga syi’ah asli. Kami tidak mengenal tentang mazhab ahlussunnah wal jama’ah kecuali bahwa mereka adalah musuh-musuh ahlulbait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.Mereka lah yang merampas kekhalifahan dari tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu’anhu, dan merekalah yang membunuh Husain.
Selasa, 24 Januari 2012
Kisah Nyata Penculikan Gadis SMP Di Riyadh, Saudi Arabia
Kisah ini disampaikan oleh seorang guru Qur`an Doktorah Raawiyah. Sebelum mengakhiri pelajaran seperti biasa beliau selalu menyelipkan beberapa nasihat, tapi kali ini nasihatnya adalah kisah nyata yang terjadi di Riyadh.
“Yaa Akhwat apa telah sampai berita kepada kalian tentang penculikan seorang gadis mutawasithah (SMP) sepekan lalu?”
“Dan tidak ada satu pun dari kami mengetahui berita tersebut”. “Baiklah yaa Akhwat, akan ku ceritakan kepada kalian bagaimana itu terjadi”.
“Dan tidak ada satu pun dari kami mengetahui berita tersebut”. “Baiklah yaa Akhwat, akan ku ceritakan kepada kalian bagaimana itu terjadi”.
Siang ba’da Dzuhur si gadis pulang sekolah, karena jarak sekolah dan rumahnya dekat seperti biasa dia memilih jalan kaki. Ternyata kebiasaannya pulang sekolah dengan berjalan kaki ini sudah lama diketahui oleh seorang pemuda. Maka terbersitlah dalam pikirannya untuk menculik gadis tersebut dan berhasil!!!
Kisah Taubat Seorang Yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Sesat
Oleh: Ustadz Abu Ashim Muhtar Arifin
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:
“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd. Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdul lathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di
Aman.
Kisah Seorang Wartawati yang Menyamar, Mengenakan Cadar
Sosok perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan cadarnya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finlandia. Tak seorang pun tahu bahwa sosok dibalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betulan tapi seorang wartawati, non-Muslim, dari surat kabar Helsingin Sanomat, salah satu surat kabar terbesar di kawasan Skandinavia.
Senin, 23 Januari 2012
Kisah Tragis Ahli Ibadah yang Mati Su'ul Khatimah
Janganlah kita terlampau puas dengan amal shalih yang sudah kita lakukan dan bersandar padanya. Apalagi diikuti dengan merasa bangga diri dan merasa sudah pasti menjadi ahli surga. Akibatnya, tidak lagi berharap kepada rahmat Allah dan kemurahan-Nya.
Sesungguhnya perbuatan hamba ditentukan pada akhir hayatnya. Dan kita tidak tahu di atas kondisi apa mengakhiri kehidupan kita, apakah husnul khatimah (akhir hayat yang baik) atau su'ul khatimah (akhir hayat yang buruk).
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya.” (HR. Bukhari).
Artinya, barangsiapa yang telah ditetapkan oleh Allah beriman di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya dia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman. Ia meninggal dalam keadaan beriman dan dimasukkan ke dalam surga. Demikan juga dengan orang yang sudah ditentukan kafir atau fasik di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya ia beriman, maka menjelang kematiannya ia akan melakukan kekufuran. Ia meninggal dalam keadaan kufur dan akan dimasukkan ke dalam neraka.
Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ
"Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya hanya tinggal satu hasta, tapi (catatan) takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka, lantas ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta, tapi (catatan) takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, lantas ia memasukinya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Sahl bin Sa'ad al Sa'idi, "Sesunggunya ada seorang dari kalian benar-benar melakukan amalan ahli surga, dalam apa yang nampak kepada manusia. . . ." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karenanya, kita harus senantiasa berdoa supaya Allah senantiasa memberikan keteguhan hati di atas kebenaran dan kebaikan serta memberikan kepada kita husnul khatimah. Sebaliknya kita juga berlindung kepada Allah dari su'ul khatimah dan kesudahan yang buruk.
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam senantiasa berdoa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati di atas agama-Mu.”
Dalam riwayat muslim beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya hati semua manusia berada di antara dua jari Allah, seolah-olah hanya satu hati. Allah berbuat sekehendak-Nya.” Lalu beliau berdoa,
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
“Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu.”
Sebab Su'ul Khatimah
Ibnu Hajar al Haitami berkata, “Sesungguhnya akhir hayat yang buruk diakibatkan bibit keburukan yang terpendam dalam jiwa manusia, yang tidak diketahui orang lain. Kadang-kadang seseorang melakukan perbuatan-perbuatan ahli neraka, namun di dalam jiwanya terpendam bibit kebaikan. Maka, menjelang ajalnya bibit kebaikan itu tumbuh dan mengalahkan kejahatannya. Sehingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah."
Abdul Aziz bin Dawud berkata, “Aku hadir pada seseorang yang sedang ditalqin (dibimbing untuk mengucapkan kalimat syahadat), akan tetapi ia tidak mau. Lalu aku bertanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang peminum khamer."
Pada kesempatan yang lain ia berkata, “Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah."
Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah.Abdul Aziz bin Dawud
Kisah Tragis seorang ahli Ibadah yang mati Su'ul Khatimah
Manshur bin Ammar mengisahkan, dulu kala aku punya seorang teman yang suka melampaui batas, lalu bertaubat. Aku melihat dia banyak beribadah dan shalat tahajjud. Suatu ketika aku putus komunikasi dengannya. Dan menurut kabar dari orang-orang, ia sedang sakit. Maka aku pergi ke rumahnya dan anak perempuannya datang menemuiku. Dia bertanya, “Siapa yang engkau ingin temui?” Aku menjawab, “Si fulan.” Maka ia mengizinkanku masuk dan akupun bergegas ke dalam rumah.Aku melihatnya sedang tebaring di atas ranjang yang terletak di tengah rumah. Mukanya terlihat kehitaman, kedua matanya tertutup dan kedua bibirnya bengkak dan menebal.
Aku berkata padanya dengan perasaan takut melihatnya, “Wahai saudaraku, perbanyaklah mengucap Laa Ilaaha Illallaah.” Ia membuka kedua matanya dan menatapku dengan penuh kemarahan, lalu ia tak sadarkan diri. Kembali kuulangi perkataanku kedua kalinya, wahai saudaraku perbanyaklah mengucap Laa Ilaaaha Illallaah.” Pada saat aku mengulanginya untuk ke tiga kalinya, lalu ia membuka matanya dan berkata, “Wahai Manshur, saudaraku, kalimat ini telah menjauh dariku.”
Aku bergumam, "Tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan izin Allah, Dzat Mahatinggi dan Mahamulia."
Kemudian aku bertanya padanya, “wahai saudaraku, di manakah shalat, puasa, tahajud dan shalat malammu?”
Ia menjawab, “Aku melakukan semua itu bukan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan taubatku hanyalah taubat palsu. Sebenarnya aku melakukan semua itu supaya aku dikenal dan disebut-sebut orang, aku melakukannya dengan maksud pamer kepada orang lain. Bila aku menyepi seorang diri, aku masuk ke dalam rumah dan memasang tirai-tirai, lalu aku minum khamer dan menantang Tuhan dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Aku terus melakukan itu sampai beberapa masa. Kemudian aku ditimpa penyakit hingga hampir binasa. Saat itu juga aku suruh anak perempuanku, ‘ambilkanlah aku mushaf!’ dan aku berdoa, ‘Ya Allah, demi kebenaran Al-Qur’an yang agung, sembuhkanlah aku!’ Dan aku berjanji tidak akan kembali melakukan dosa untuk selamanya. Maka Allah membebaskanku dari penyakit.
Setelah sembuh, aku kembali kepada keadaan semula, hidup berpoya-poya dan berhura-hura. Syetan telah membuatku lupa dengan perjanjian yang telah kuikrarkan kepada Tuhanku. Aku terlena dalam keadaan itu sampai beberapa saat lamanya hingga aku menderita sakit hampir mati karenanya. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti biasanya. Kemudian aku suruh mereka mengambilkan mushaf dan aku mulai membacanya. Lalu aku acungkan mushaf itu seraya berdoa, ‘Ya Allah, demi kehormaan kalam-Mu yang ada dalam mushaf ini, bebasknalah aku dari penyakitku!.’ Maka Allah mengabulkan permintaanku dan menyembuhkan penyakitku.
Kemudian aku kembali hidup bersenang-senang dan akupun jatuh sakit lagi. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti yang engkau lihat sekarang ini. Kemudian aku menyuruh mereka mengambilkan mushaf untuk kubaca, tetapi mataku sudah tidak bisa melihat saru huruf-pun. Aku pun menyadari bahwa Allah sudah murka kepadaku. Lalu aku acungkan mushaf itu di atas kepalaku sembari memohon, ‘Ya Allah, demi kehormatan mushaf ini, bebaskalah aku dari penyakit ini, wahai penguasa bumi dan langit!’ Tiba-tiba aku mendengar seperti suara memanggil, ‘engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala’ cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan’.”
‘Engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala’ cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan’.
Manshur bin ‘Ammar berkata, “sungguh demi Allah aku keluar dari rumahnya dengan air mata tertumpah merenungkan ‘ibrah yang baru kulihat, dan belum sampai di pintu rumahku, sampailah kabar bahwa dia sudah meninggal.” [PurWD/voa-islam.com]
(Sumber: Mi’ah Qishash wa Qishah fi Anis ash-Shalihin wa Samir al Muttaqin, Muhammad Amin al Jundi, (edisi Indonesia: 101 kisah teladan, Mitra Pustaka Yogyakarta, Cet XI November 2006).
www.voa-islam.com
Langganan:
Postingan (Atom)
ILMU GRAFIS
azRiemaginer
Today is
References
Jumlah Pengunjung
Labels
- azrie design (12)
- Do you know (18)
- Download (7)
- Dunia Luar (1)
- Fatwa (5)
- Indonesiaku (11)
- Jihad (5)
- Kesehatan (4)
- Kisah (10)
- Makassar (8)
- My Mind (47)
- Review Buku (3)
- Tarbiyah (9)
- Tazkiyatun Nafs (7)









