Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Mei 2014

TABLIGH AKBAR: MUSH'AB BIN UMAIR, SOSOK PEMUDA PILIHAN IDAMAN AKHIR ZAMAN

 
  
Mush’ab bin Umair  (Arab: مصعب بن عمير) adalah seorang remaja Quraish terkemuka, paling tampan, penuh dengan jiwa dan semangat muda. Sejarawan dan ahli riwayat menjelaskan masa mudanya dengan ungkapan, “seorang penduduk Mekkah yang mempunyai nama paling harum.”


     Dia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan serta tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tidak seorangpun di antara anak-anak muda Mekkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sedemikian rupa sebagaimana Mush’ab bin Umair .

     Mungkinkah anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah, dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan berubah menjadi pelaku cerita tentang keimanan dan kepahlawanan?
     Demi Allah, kisah Mush’ab bin Umair  atau yang dijuluki oleh kaum muslimin dengan sebutan “Mush’ab Yang Baik” adalah kisah yang penuh pesona. Ia merupakan salah satu di antara orang-orang yang ditempa oleh islam dan dididik oleh Muhammad.  (http://pendalaman-tokoh.blogspot.com)
 
Namun, bagaimana sosok sejatinya?
Bagaimana kisah kehidupannya?

HADIRILAH!
TABLIGH AKBAR:
MUSH'AB BIN UMAIR, SOSOK PEMUDA PILIHAN IDAMAN AKHIR ZAMAN

MENGHADIRKAN PEMATER:
USTADZ H. HARMAN TAJANG, LC

WAKTU: AHAD, 1 JUNI 2014 PUKUL 08.00 WITA
TEMPAT: MASJID BABUL MUTTAQIEN, JL. DG. TATA RAYA NO. 17 MAKASSAR

AKAN DIRANGKAIKAN DENGAN PENGUKUHAN REMAJA MASJID BABUL MUTTAQIEN.

Ekspresi Lucu Kucing Menyambut Ramadhan 2014




Sabtu, 08 Desember 2012

Kita, Mi Instan, dan Topik Pernikahan



Bismillah..
[untuk menghindari kesalahan persepsi dini, maka kami sangat berharap agar dibaca sampai benar2 selesai]

Aku kagum pada mahasiswa yang tinggal di kos kosan, yang berlatarbelakang sebagai orang kurang mampu, (atau bahasa kerennya: orang miskin), tapi sama sekali  tidak mau makan mi instan. Minimal dia hanya mau makan nasi berlaukkan tahu, tempe, dan sayur. Ingat! Itu MINIMAL lho! Eitz..Bukan berarti dia orang yang tidak tau diri, maunya makan yang enak-enak doang. Bukan pula berarti mahasiswa ini boros dan tidak peduli orang tua yang kerja setengah mati.

Senin, 02 Juli 2012

RENUNGAN KKN (KHUSUS IKHWA AKHWAT)


  
 Ditulis oleh Ibnu Abu Bakar
Saudaraku, mari kita bernostalgia sejenak, mengingat masa lalu kita, mengingat masa SMA kita, ketika hidayah islam, hidayah sebagai sorang ikhwah, hidayah sebagai seorang akhwat belum diberikan oleh Allah kepada kita.  Saat kita masih bergelimang kemaksiatan, saat tangan kita begitu kotor karena memegang wanita atau lelaki yang bukan mahram kita, saat hati ini masih menduakan Allah dengan si-DIA, saat  musik dan lagu masih menjadi makanan keseharian kita, saat artis-artis masih menjadi idola kita, saat ibadah-ibadah masih jarang dan bolong-bolong kita kerjakan, saat tutur kata kita adalah tutur kata keburukan, yang keluar dari mulut kita adalah perkataan-perkatan kotor, ketika nikmat kebersamaan dengan ikhwah atau akhwat belum kita rasakan, mari mengingat sejenak masa-masa kegelapan tersebut. Lalu lihat lagi diri kita hari ini. Diri dalam naungan hidayah, diri yang bergelimang kenikmatan atas ketundukan pada Allah. Saat ini, kita selalu merasakan nikamatnya beribadah kepada Allah. Bisa menikmati sholat dengun khusu`, berjama`ah sudah menjadi rutinitas, saat kita merasakan betapa nikmatnya hidup ini dikala kita mampu menjalankan sunnah Rasulullah, celana yang di atas mata kaki, hijab yang syar`I bagi akhwat, merasakan nikmat iman dikala mampu menudukkan pandangan, merasakan betapa nikmatnya selalu bersama dengan orang-orang sholeh, dimana mereka selalu mengingatkan kita akan ketaatan kepada Allah, hidup nilkmat karena selalu bersama ikhwah atau selalu bersama akhwat, demikian pula nikmatnya dapat mengikuti majlis ta`lim. Sungguh saudaraku, semua itu begitu nikmat.  Maka coba jawab pertanyaan ini, maukah relakah kita melepaskan nikmat hidayah ini untuk ditukar dengan nikmatnya  dunia? Relakah kita melepaskan kenikmatan bersama dengan Allah,  berdua dengan Allah, kemudian ditukar dengan kembali ke masa lalu kita ? Saat kita kembali pacaran, masih memperlihatkan aurat, dan berbagai maksiat yang lain ? Relakah kita ? hati yang tunduk pada Allah, tentu akan berkata TIDAK!